Selamat Datang Di Website Kami….Seluruh Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai Kami GRATIS !!!….Kami Siap Merehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan NAPZA….”ZONA WILAYAH BEBAS KORUPSI”

BATURRADEN (24 Juli 2020) – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2020, Kementerian Sosial RI melalui Balai Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan (BRSKP) Napza “Satria” di Baturraden menyelenggarakan virtual training dengan tema “Konseling Adiksi Napza pada Anak dan Remaja”.

Virtual training yang diikuti sebanyak 730 orang peserta ini merupakan lanjutan dari kegiatan sebelumnya yang membahas tentang peran keluarga dalam rehabilitasi korban penyalahgunaan Napza. Restyaningsih, selaku Kepala BRSKP Napza “Satria” di Baturraden menyampaikan bahwa sebagai penggiat di bidang Napza perlu menjaga generasi penerus bangsa dari bahaya Napza.

“Sesuai pesan Bapak Menteri Sosial pada peringatan Hari Anak Nasional, mari kita dukung anak-anak Indonesia agar terlindungi untuk mewujudkan Indonesia maju”, kata Restyaningsih.

Materi disampaikan oleh Tri Iswardani, Psikolog Klinis Universitas Indonesia sekaligus psikoterapis pemulihan trauma dan adiksi serta Esther Budi Sri Sulistyowati selaku Ketua Asosiasi Pekerja Sosial Adiksi Napza Indonesia (APSANI).

Pengalaman masa kecil dapat berpengaruh terhadap adiksi Napza. Menurut penelitian, pengalaman buruk pada masa kecil dapat mempengaruhi pertumbuhan neuron di otak dan jika sudah seperti itu maka dapat mempengaruhi perkembangan sosial emosional kognitifnya. Ekstrimnya bahkan dapat menyebabkan early death

Konseling pada anak dan remaja berbeda dengan konseling orang dewasa. Tujuannya untuk membantu anak dan remaja agar stabil secara emosional sehingga mereka nyaman dengan dirinya dan punya kesempatan untuk melanjutkan perkembangannya menjadi lebih sehat.

“Jika diibaratkan toolbox, seorang konselor adiksi harus mempunyai keterampilan dasar yaitu empati, kemampuan membina rapport, active listening, attending behavior, dan keterampilan observasi dalam interview dalam toolboxnya”, kata Iswardani.

Dalam melakukan konseling adiksi, para konselor juga harus yakin bahwa adiksi dapat diatasi dengan peralatan dan intervensi yang tepat. “Lakukan konseling semampu dan seprofesional kita. Konselor adiksi berperan untuk membantu klien agar dapat mengeksplorasi diri dan memahami dirinya serta mengarahkannya berubah”, imbuh Iswardani.

Hal tersebut didukung penjelasan dari narasumber selanjutnya yang menjelaskan tentang konseling dari sudut pandang pekerja sosial. “Pekerja sosial adiksi Napza berperan untuk menolong individu yang mengalami ketergantungan Napza sehingga dapat menjalankan keberfungsian sosialnya. Apalagi untuk anak yang berhadapan dengan hukum”, kata Esther.

Mengusung tema HAN 2020, “Anak Terlindungi Indonesia Maju” bahwa salah satu hak anak yaitu untuk memperoleh perlindungan, baik perlindungan dari kekerasan fisik dan psikis, serta perlakuan yang mungkin merugikan anak. Sehingga keluarga mempunyai peranan penting untuk menjamin agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara baik, termasuk hidup sehat tanpa penyalahgunaan Napza.

Penulis : Retno Wijayanti, S.ST ( Penyuluh Sosial Pertama BRSKP Napza “Satria” Di Baturraden)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow by Email
Facebook
Twitter
YouTube
Instagram
1
Halo...para Kerabat Satria. Ada yang bisa kami bantu ?
Powered by